“Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya mengenai orang yang dipimpinnya”. (H.R. Bukhari Muslim)
Sekecil-kecilnya kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri, kita bertanggungjawab atas diri kita sendiri.
Bagaimana kita bisa sukses memimpin orang lain jika kita sendiri tidak bisa memimpin diri kita sendiri.
Bagaimana??
Harus punya tujuan hidup, buat life mapping kita mau ngapain, apa target kita, tujuan kita harus berimbang dunia dan akhirat. Lakukanlah hal yang prioritas dalam hidup dan yang terpenting jangan coba-coba ingin menjadi seperti orang lain, maksimalkan potensi diri sendiri..gali!!.
Yang tak kalah penting, disiplin dan mampu memanage diri sendiri.
Prinsip muslimah setelah menikah bukan hanya soal kasur, sumur dan dapur. Namun harus tetap aktif dalam peran sosial, bukan islam untuk diri sendiri tetapi mengajak saudaranya sebanyak-banyak kepada kebaikan dan bermanfaat bagi ummat.
Jadi perempuan sebagai manusia juga memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu dan dakwah. Jadi saya tidak setuju jika perempuan hanya boleh di rumah saja, sebagai contoh jika tidak ada dokter kandungan yang perempuan tentu kita akan risih, sama halnya dengan perawat, bidan, guru. Jika tidak ada perempuan yang menuntut ilmu bagaimana dengan yang memandikan mayat, dan lain sebagainya. Atau bisa lewat berdagang, misal dagangan makanan seminggu sekali bisa memberi makan kaum duafa gratis. Banyak sekali, cara-cara perempuan ikut berperan aktif atau berkontribusi untuk ummat.
Yuk mulai pahami diri sendiri lalu pilih peran apa untuk ummat dan amanahlah. Jangan dipaksakan, sesuaikan dengan kemampuan diri sendiri.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ
“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).
Nah, selanjutnya bagaimana menumbuhkan semangat leadership ke anak :
- Beri teladan , biarkan anak ikut terlibat, dari sanalah mereka akan belajar. Sebaik-baik nasihat adalah keteladanan yang nyata
- Ajak bercerita , bacakan sirah nabawiyah, bagaimana rasul dan para sahabat menjadi pemimpin dan karakternya berbeda-beda
- Beri kepercayaan , belajar untuk memimpin dirinya sendiri, biarkan anak menyiapakn keperluannya sendiri, planning harian, mingguan, bulanannya. Buat aturan, diskusi, beri pemahaman konsekuensi dan resiko atas keputusannya
Semoga segala niat baik kita dimudahkan Allah, untuk berkontribusi bagi ummat dan melahirkan generasi-generasi penerus yang mewarisi keteladanan rasulullah dan para sahabat.
Komentar
Posting Komentar